Begitu patah hati penyanyi ini kepada pembajakan sehinga ia memutuskan tidak membuat album lagi. Ini sungguh patah hati yang terlambat. Karena sejak awal ia harus paham betapa negerinya ini penuh pembajak. Maka semestinya, sudah sejak awal pula ia tidak perlu memutuskan menjadi penyanyi.
Di kotaku makin sering berdiri aneka mal. Di antaranya ada yang berlokasi di sebuah tempat yang aku tidak setuju. Tetapi karena mal itu tetap berdiri di situ tanpa peduli aku menolak atau setuju maka aku pun menyalurkan kemarahan dengan caraku sendiri.
SETIAP Jumat, saya memiliki ritual khusus. Bukan cuma berupa salat Jumat berjamaah ke masjid depan rumah, tetapi juga menyiapkan tempat parkir khusus di depan rumah. Untuk siapa? Untuk siapa saja sebetulnya, bagi siapa yang kebih dulu mengambilnya. Siapa yang lebih dulu, itulah rezekimu, begitulah prinsipnya. Tetapi anehnya, sudah sekian lama, saya merasa tempat persis di depan rumah itu, seperti cuma untuk mobil yang itu saja. Mestinya ini tidak adil. Tetapi begitulah kenyataannya.
SESUATU yang sampai kepadamu, bertugas membawa pesan untukmu. Begitu juga dengan buku Paulo Coelho ini. Seorang teman memberikan buku ini kepadaku, dalam edisi bahasa Inggris, Like The Flowing River, karena menurutnya: ‘’Mirip gaya tulisanmu.’‘
SUDUT pandangku tentang diriku ternyata sangat berkaitan dengan sudut pandangku dengan rasa cemburu. Ketika aku memandang diriku sebagai pemain gitar, senang sekali aku jika ada pemain gitar yang lebih buruk kualitasnya dariku. Kepadanya aku merasa menang dan kalau ia mau, aku bisa menasihatinya berlama-lama, bukan untuk membuatnya pintar, tetapi lebih dari sekadar untuk meneguhkan kemenanganku. Buktinya, kalau anak itu nanti benar-benar pintar karena nasihatku dan malah menyalip kemampuanku, murkalah hatiku.
JUDUL di atas bukan gambaran pemandangan di sebuah kamp penyiksaan melainkan cukup terjadi di rumah Apriyani, di Cibeber Bekasi. Di rumah itulah, selama dua bulan, ia dikabarkan menganiaya pembantunya, Haryanti, wanita asal Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah.