Hobi saya atas sesuatu dari hari ke hari makin bertambah saja. Yang terbaru adalah mencari orang-orang yang saya anggap rileks hidupnya. Orang dengan pembawaan ini penting sekali untuk menghibur hati. Mereka ini menghibur, karena semua persoalan, betapapun berat di mata ornag lain, di tangan orang ini tidak cuma jadi ringan, tapi malah bisa berubah lucu.
Orang semacam ini di mata saya memiliki tiga kekuatan sekaligus. Pertama, bahwa ada orang yang bisa bersikap rileks di zaman yang penuh ketegangan ini pun sudah merupakan kemampuan yang luar biasa. Belum lagi jika si rileks ini bisa mengubah yang berat menjadi ringan, kemampuan itu tentu pasti lebih hebat lagi. Belum lagi jika ia tidak cuma bisa meringankan soal yang berat, tapi malah sudah sanggup menghumorkannya, ilmu orang ini pasti susah diukur kedalamannya. Jadi betapa senang berdekatan dengan orang yang karena kedalaman ilmunya selalu tampak bergembira semacam itu.
Tapi tidak gampang mencari orang rileks yang sebenarnya karena banyak jenis rasa rileks yang bersifat ketrampilan dan tidak mencerminkan kualitas rileks yang sebenarnya. Keadaan ini bisa menimpa siapa saja, baik orang terkenal maupun orang-orang biasa.
Saya pernah ikut mengantar seorang yang banyak dikagumi karena ceramah-ceramahnya yang mencerahkan. Kepadanya telah disematkan aneka gelar seperti pakar, begawan, resi… Sudah padatlah jam terbangnya, di mana-mana kerjanya cuma ditanya dan diminta bernasihat. Tapi ketika sang begawan ini ketinggalan pewasat, tiba-tiba ia menjadi kalap secara tak sengaja. Kami pengantarnya, ia semprot sebagai tidak cekatan, lambat dan teledor dengan sengaja. Sang begawan ini mengagetkan kami karena dalam soal kemarahan, ia juga tak berbeda dengan kami, orang-orang awam ini.
Saya pernah mendengar seseorang yang mengaku begitu sibuk. Saking sibuknya, saat ia diminta berceramah bersama banyak pembicara, ia minta giliran pertama. Rampung ceramah, ia masih minta diteruskan dengan sesi tanya jawab khusus untuknya. Giliran ia melihat begitu banyak penanya, dan banyaknya pertanyaan ini dianggap menjadi lambang bagi mutunya, maka lupalah orang ini kalau sebelumnya ia mengaku sibuk. Lupa pula kalau keasyikanya itu telah merampas jatah pembicara lainnya. Orang yang semula mengaku sibuk ini ternyata lupa waktu, sepanjang ia tengah ditempatkan sebagai idola.
Jadi ketahuan sudah, bahwa orang ini memang benar, tidak punya waktu, tapi bukan karena sibuk, melainkan sekadar tidak punya waktu untuk mendengar orang lain bicara, tak punya waktu menunggu giliran sesuai aturan panitia, tak punya cukup kerendahatian untuk bersama-sama pembicara lain merampungkan kewajibannya. Praktik ini mengagetkan, karena pada saat yang sama, ia baru saja memukau publik dengan ceramahnya bagaimana membentuk manusia luhur.
Saya pernah melihat seorang yang sudah disebut sebagai pemuka agama. Setiap pidato selalu tak lupa menyitir ayat suci. Setiap berbicara selalu tak lupa bernasihat. Tapi ketika panitia rapat kampung lupa mengundangnya, ia marah luar biasa. Ia mengancam hendak mundur sebagai penasihat dan pindah ke kampung lain yang menurutnya lebih gampang dinasihati.
Saya pernah mengenal seorang intelektual yang sangat cemerlang gagasan-gagasannya, sangat tajam kritik-kritiknya. Dengan tegas ia tunjuk orang-orang biang kebobrokan di sekitarnya. Jika melihatnya tengah berbicara, sepertinya ia layak menjadi presdien, karena semua persoalan negara, ia seperti tahu pemecahannya. Tapi rasa kagum ini berubah menjadi kaget ketika melihatnya tengah berbangga hati demi menerima sepucuk undangan agar ia mau menjadi penasihat ahli dari orang yang dikritiknya.
Agak sulit mencari orang yang rileks dalam arti sesungguhnya, karena ada jenis kemuliaan yang telah menjadi semacam ketrampilan.
Oleh Prie GS