MEMASUKI hari kesepuluh, pencarian pesawat Adam Air yang hilang pada 1 Januari lalu mulai menunjukkan titik terang. Sejumlah bagian pesawat itu kemarin ditemukan di sekitar Pantai Lojie, Pantai Mallawa, dan Pantai Kupa, Sulawesi Selatan.
Hingga tadi malam, bangkai pesawat Adam Air memang belum ditemukan. Namun, temuan bagian sayap belakang sebelah kanan pesawat Boeing 737-400 itu dipastikan berasal dari pesawat yang hilang. Bagian sayap belakang itu memiliki nomor seri 65C25746-76. Pihak Adam Air membenarkan bahwa itu memang nomor seri pesawat KI-574 miliknya yang hilang dalam penerbangan Surabaya menuju Manado itu.
Potongan bagian sayap belakang itu ditemukan seorang nelayan di Pantai Lojie, Desa Bojo, Kecamatan Malusetasi, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, Selasa (9/1) lalu. Namun, baru keesokan harinya dilaporkan ke pihak berwenang. Penemuan penting itu berlanjut dengan ditemukannya berbagai serpihan pesawat di kawasan Pantai Mallawa dan Kupa.
Berdasarkan penemuan potongan pesawat Adam Air dan penemuan sinyal logam di tiga titik di sekitar perairan Mamuju, Sulawesi Barat, pesawat tersebut diperkirakan jatuh ke laut.
Kita berharap penemuan itu menjadi titik awal untuk menguak tabir mengapa pesawat Adam Air yang membawa 96 penumpang dan enam awak tersebut bisa jatuh. Penemuan sebab-sebab pesawat jatuh itu penting untuk menepis berbagai spekulasi yang menyesatkan.
Sebab, di setiap musibah kecelakaan pesawat, cuaca kerap dijadikan kambing hitam. Bahkan, dalam kasus Adam Air, berkembang spekulasi bahwa pesawat itu hilang lantaran ada kawasan segitiga bermuda di perairan Sulawesi Selatan. Padahal, fakta menyebutkan kecelakaan pesawat umumnya akibat keteledoran manusia.
Yang perlu digarisbawahi, penyelidikan terhadap sebab-sebab kecelakaan pesawat harus secepat mungkin diinformasikan kepada publik. Bukan rahasia lagi, investigasi terhadap musibah berbagai kecelakaan kerap bertele-tele hingga publik lupa.
Selain itu, musibah Adam Air tersebut selayaknya menjadi titik tolak perlunya regulasi di bidang transportasi darat, laut, dan udara dibenahi. Sebab, negara hingga kini belum mampu menyediakan layanan transportasi yang layak dan nyaman. Transportasi di Republik ini kerap tidak menghargai nyawa manusia.
Kebijakan tarif pesawat murah, misalnya, harus dikaji ulang bila itu mengabaikan keselamatan penumpang. Ini penting karena kasus kecelakaan tiap tahun terus meningkat. Pada 2004 tercatat 109 kasus, pada 2005 (111 kasus), dan 2006 (119 kasus). Tingginya angka itu menjadikan tingkat kecelakaan udara di Indonesia terbesar di dunia. Dan, yang menyedihkan, banyak maskapai penerbangan melakukan efisiensi justru di bidang perawatan pesawat.
Selain pembenahan regulasi transportasi, kelembagaan yang ada perlu juga direvitalisasi. Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), atau apa pun namanya, sepantasnya terpisah dari Departemen Perhubungan. Agar lembaga itu bisa mandiri dan bekerja secara profesional.
Terakhir, audit menyeluruh terhadap maskapai penerbangan di Indonesia juga perlu dilakukan agar standar bagi keselamatan penumpang bisa lebih terjaga. Tanpa langkah-langkah itu, nyawa manusia akan terus melayang secara percuma