JUMLAH penderita HIV/AIDS di negeri ini cenderung semakin meningkat. Bahkan, mulai muncul gejala semakin banyak ibu hamil terkena HIV/AIDS yang menyebabkan sang anak pun tertular.
Jumlah kasus penderita HIV/AIDS paling tinggi terjadi di DKI Jakarta, kemudian disusul Papua pada urutan kedua, dan Jawa Timur pada urutan ketiga. Namun, dilihat dari sudut prevalensi untuk 100 ribu jiwa penduduk, Papua tetap yang paling tinggi karena jumlah penduduknya yang lebih sedikit.
Ada dua faktor penyebab meningkatnya penderita HIV/AIDS. Yaitu, berhubungan seks bukan dengan pasangan serta penggunaan narkoba suntik. Di Papua terutama diakibatkan hubungan seks, sedangkan di Jakarta akibat pemakaian jarum suntik narkoba.
Di berbagai kota besar di Pulau Jawa memang terjadi kecenderungan meningkatnya penderita narkoba yang menggunakan jarum suntik. Bahkan, menimpa kota pelajar dan kebudayaan seperti Yogyakarta.
Narkoba adalah musuh berwajah ganda. Tidak hanya menghancurkan generasi muda bangsa ini akibat ketergantungan, tetapi juga menularkan HIV/AIDS melalui jarum suntik. Oleh karena itu, pemberantasan penjualan dan peredaran narkoba haruslah dilakukan dengan komitmen yang sangat kuat dan tidak dapat ditawar-tawar atau dinegosiasikan. Sebab, adalah fakta bahwa penjual dan pengedar dengan gampang dapat lolos karena petugas dapat dibeli dengan uang. Sementara itu, terjadi salah kaprah, menganggap pemakai narkoba lebih sebagai kriminal dan bukan sebagai pasien yang seharusnya mendapatkan pengobatan di pusat-pusat rehabilitasi. Bahkan lebih ironis lagi, justru penjualan dan peredaran narkoba semakin marak di dalam penjara.
Tak gampang menyembuhkan orang dari ketergantungan narkoba. Tak ada jalan pintas untuk menyadarkannya. Tak bisa lain, negara harus memiliki program yang bertahap dan sistematis, sehingga penderita narkoba dapat disembuhkan dan penularan HIV/AIDS melalui jarum suntik dapat dicegah.
Langkah cepat harus diambil karena pendeknya jarak waktu setelah menderita HIV menjadi AIDS. Untuk orang Indonesia rata-rata diperlukan 5-8 tahun, sedangkan untuk orang barat dari HIV menjadi AIDS diperlukan 10 tahun karena gizinya lebih baik.
Untuk Papua, pemerintah daerah juga harus berani mengambil langkah untuk memaksakan penggunaan kondom 100% di lokalisasi. Adalah sangat ideal bila lokalisasi akhirnya ditutup. Namun, pemberantasan penularan HIV/AIDS jelas memerlukan pendekatan yang realistis agar efektif.
Langkah lain adalah menganjurkan ibu-ibu hamil muda, yang suaminya berkelakuan miring dan suka narkoba, untuk melakukan tes sehingga lebih awal dapat diketahui apakah menderita HIV/AIDS atau tidak. Dengan melakukan pemeriksaan yang lebih dini, sang bayi pun dapat diselamatkan melalui pengobatan.
Peningkatan penderita HIV/AIDS harus menjadi keprihatinan nasional. Jangan tunggu HIV/AIDS menjadi epidemi, apalagi pandemi, baru semua kita tersentak dan kalang kabut.
Berbagai upaya mutlak mesti dilakukan agar negeri ini bisa bebas dari penyakit yang satu ini. Intinya ialah pentingnya sinergi nasional, yaitu perpaduan gerakan moral dan gerakan medis, yang disertai dengan gerakan menegakkan aparat yang tidak bisa dibeli dengan uang dalam memberantas narkoba. Sebuah pekerjaan yang mendekati utopia nasional bila tanpa komitmen yang hebat.