KEHADIRAN budayawan Rendra di berbagai ruang diskusi memang selalu memukau. Pukauan Rendra, tentu saja beranjak dari cara dia bertutur: retorik dan statement-statament yang segar. Persis dengan puisi-puisi yang ia ciptakan, penuh nuansa.
Begitu juga ketika Rendra hadir dalam diskusi soal RUU Pornografi dan Pornaksi, di Taman Ismail Marzuki, pekan silam. Pukauan Rendra kembali hadir.
“Saya menolak RUU Pornografi dan Pornoaksi ini karena dua hal. Pertama, karena alasan filosofis. RUU ini tidak ada argumentasi yang cukup kuat untuk diundangkan. Kedua, alasan politis,” tutur lelaki kelahiran Solo, 7 November 1935 ini.
Alasan politis bagi Rendra, karena RUU ini tidak melihat pertumbuhan dan perkembangan budaya daerah. Daerah Bali dan Papua, urai Rendra, yang memiliki kultur terbuka, akan terjerat pasal-pasal RUU ini.
“RUU ini akan memecah belah daerah. RUU ini dibikin dengan pendekatan pusat, Jakarta. Jika RUU ini disahkan, orang-orang daerah semakin membenci Jakarta. Selama ini Jakarta dianggap sebagai faktor penghambat kemajuan daerah,” tegas komandan Bengkel Teater ini.
Menurut Rendra, RUU ini tidak apresiatif terhadap moralitas organik dan mendorong moralitas mekanik. Satu moralitas tubuh yang tidak bisa disentuh karena tubuh adalah ruang privat.
“Moralitas mekanik inilah yang akan diusung RUU ini. Moralitas yang hanya menyandarkan diri pada hal-hal yang sifatnya permukaan, tidak substantif. Saya menolak RUU ini karena telah melangkahi akal sehat kita,” tukas si Burung Merak ini