TALENTA perjuangan feminisme seperti RA Kartini tidak hanya ditemukan di Jawa, tetapi perjuangan Kartini membebaskan kaum perempuan dari belenggu kebodohan juga ditemukan di Ranah Minang, Sumatra Barat. Dialah Rohana Kuddus, pejuang feminis di Tanah Minangkabau yang perjuangannya sama persis dengan Luce Irigaray, pejuang feminisme kontemporer dari Prancis. Masing-masing tokoh dari latar belakang berbeda ini menginginkan perubahan dan kemajuan perempuan di tengah pengaruh budaya serta belenggu adat istiadat.
Melalui buku Rohana Kuddus, Fitriyani menguak sepenggal sejarah pers nasional. Di saat wartawan di Tanah Air hanya sepuluh hitungan jari, bahkan kurang dari sepuluh. Rohana Kuddus membuka wacana intelektual dan wawasan berpikir masyarakat, terutama kaum perempuan.
Bila selama ini pejuang hanya di bidang politik, sosial, budaya, kali ini pejuang lahir di bidang jurnalistik dan pergerakan perempuan.
Di awal abad ke-19, saat 99% perempuan di Tanah Melayu masih buta huruf, hidup di tengah ajaran agama dan adat istiadat dengan penafsiran yang sempit dan cenderung picik, serba mengekang kemajuan perempuan, Rohana kecil menjadi guru kecil. Ia mengajari teman-temannya bermain sambil membaca tulisan di usia delapan tahun. Jatuh bangun memperjuangkan nasib perempuan, mengalami berbagai benturan sosial masyarakat, pemuka adat dan agama.
Fitriyani memaparkan kehidupan wartawan perempuan pertama di Indonesia ini dimulai dengan kehidupan masa kecil Rohana dan budaya Minangkabau. Selanjutnya, melukis lika-liku perjuangannya dalam ‘membudayakan’ masyarakat untuk melek huruf.
Di saat usia Rohana seharusnya masuk sekolah, orang tuanya harus menghadapi dilema, karena tidak bisa menyekolahkan putri tercintanya. Alasannya, bukan karena tidak memedulikan kemajuan pendidikan anak perempuan atau desakan faktor ekonomi. Akan tetapi, pada waktu itu anak perempuan dilarang mendaftar ke sekolah-sekolah. Sekolah hanya untuk laki-laki, sekalipun ada sekolah untuk perempuan, lokasinya sangat jauh. Walaupun Rohana tidak pernah mengenyam bangku pendidikan.
Dia hidup di tengah adat istiadat kolot, dan dukungan serta perhatian orang tua di bidang pendidikan juga langka.
Bagi Rohana tidak ada perjuangan mulia yang sia-sia. Memang tidak mudah, apalagi untuk pejuang mengubah kebudayaan. Cita-citanya menegakkan keadilan perempuan tidak selamanya berjalan mulus. Gugatan serta caci maki menyertai langkahnya, baik dari kalangan agamawan, maupun pemuka masyarakat, terutama yang berpikiran sempit dalam memajukan kegiatan kaum perempuan. Derasnya gunjingan membuat Rohana dan suaminya pergi ke Medan.
Untuk mengembalikan kepercayaan orang kampung, bersama istri seorang jaksa mengadakan pertemuan dengan mengundang tokoh agama, pemuka masyarakat dan petinggi negeri. Dengan bahasa santun dan sikap tenang tetapi tegas, Rohana mengutarakan niatnya untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan, memajukan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kegiatan sosial. Niat mulianya ternyata menggugah hati para tokoh dan ibu-ibu sekaligus malu. Karena mereka selama ini tidak pernah berpikir sejauh itu. Meski usianya masih tergolong muda, ide-idenya patut dibanggakan. Orang yang menghadiri pertemuan itu sepakat untuk mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) sebagai respons atas ketidakwajaran nasib kaum perempuan di tanah kelahirannya.
Rohana adalah wartawati pertama Indonesia, sebagai pelopor profesi wartawan perempuan, nama Rohana menjadi terkenal. sekalipun Sunting Melayu adalah surat kabar perempuan. Dalam perkembangannya tidak hanya membicarakan kaum perempuan. Berbagai peristiwa politik maupun kriminal yang terjadi di Tanah Melayu dan negara lain juga di angkat. Dalam menjalankan profesinya sebagai seorang jurnalis, Rohana tetap menjaga adat istiadatnya sebagai perempuan di Ranah Minang.
Surat kabar yang diasuhnya terbit hampir sembilan tahun, surat kabar ini terhenti karena redaksinya sibuk menerbitkan surat kabar lain, sebagian ada yang merantau. Waktu Sunting Melayu terbit usianya cukup lama, karena pada waktu itu surat kabar yang terbit hanya beberapa bulan, bahkan ada yang tiga bulan. (Farel Muhammad Rizqy, Penulis Buku PADI, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)