Strategi Adaptif dalam Era Penuh Perubahan

jansen sinamo ~ {November 28th, 2005 - 11:48 pm}

Konon kucing hidup sezaman dengan dinosaurus sekitar 75 juta tahun yang lalu. Pada waktu itu manusia belum ada di bumi. Zaman berubah, dan sekarang kita tahu dinosaurus punah sudah sedangkan kucing mampu beradaptasi dan eksis hingga kini. Si kucing kini hidup di rumah manusia, disayangi, bahkan dipeluk-peluk oleh para pencintanya. Apa yang dilakukan kucing yaitu belajar secara kontinual dan menyesuaikan diri secara cerdas dengan lingkungan barunya, secara esensial, adalah melaksanakan ajaran Peter M. Senge penulis The Fifth Discipline, untuk menjadi seekor hewan pembelajar.

Tanpa berguru pada Senge, kucing telah berhasil menjadi a learning animal yang dikagumi. Boleh dikatakan kucing adalah simbol keberhasilan adaptif, yang oleh karena karakter belajarnya, berhasil beradaptasi secara kontinual dan jenial. Sedangkan si Dino menjadi simbol kebebalan yang arogan dan naif; melawan gelombang perubahan dan menggali kuburnya sendiri.

Dalam krisis besar di negara kita belakangan ini, kita dapat mengelompokkan orang dan organisasi dalam dua macam kategori di atas. Manusia kucing dan manusia dino. Organisasi kucing dan organisasi dino. Secara empirik, kelihatannya jenis dino lebih banyak ketimbang jenis kucing. Karena itu kita ingin belajar bagaimana menjadi insan, perusahaan, atau organisasi adaptif, yang dengan gaya kucing berhasil belajar secara kontinual jenial yang olehnya kita dapat mencapai kesuksesan, sekarang dan di masa depan.

APA ITU BELAJAR? Saya merumuskan belajar sebagai aktivitas untuk meningkatkan pengertian atau kesadaran kita tentang diri sendiri (self-awareness), dunia sekitar kita (cosmo-awareness), termasuk kesadaran tentang Tuhan dan dunia gaib (theo-awareness) dan relasi ketiganya (relationship-awareness) ke tingkat yang lebih dalam dan tinggi, sehingga oleh kelengkapan dan ketajaman pengertian itu, kita dimungkinkan untuk melakukan tiga hal:

Hidup dengan harmoni, relevansi, dan aktualitas level tinggi dengan dunia sekitar kita (saya sebut sebagai principle of relevance);

Mendayagunakan potensi dunia sekeliling tersebut untuk menciptakan seperangkat nilai organik dan bermanfaat yang dapat kita sajikan pada dunia sekeliling, yang olehnya kita mendapat nilai tukar yang sepadan (saya sebut sebagai principle of innovation); dan

Terus menerus mampu meningkatkan mutu sajian nilai di atas, yang pada gilirannya memperbesar nilai tukarnya dari dari dunia sekeliling kita itu (saya sebut sebagai principle of quality).

Mampu melakukan tiga hal di atas, tidak lain tidak bukan, berarti mencapai keberhasilan. Dapat disimpulkan bahwa belajar membuat kita sukses. Inilah esensi dari learning for success. Hal ini benar secara personal, benar pula secara organisasional dan sosial. Sekaligus dengan pengertian ini, saya dapat merumuskan tiga tingkat kesuksesan.

Tingkat pertama: Sukses Survivatif. Ini berarti kita survive. Tidak punah digulung perubahan. Bisa saja babak belur tetapi masih eksis, belum mati. Bisnis kita tidak sukses dalam skala besar-besaran seperti Microsoft-nya Bill Gates, tetapi terus hidup meski pun monoton dan biasa-biasa saja. Tidak untung gede-gedean, namun tidak sampai bangkrut. Sukses ini dapat kita capai dengan menjaga relevansi, keharmonisan, dan aktualitas diri dan bisnis kita dengan dunia sekeling, dengan konstituen dan utamanya dengan pelanggan kita. Ketika kita tidak lagi relevan, out of touch dengan dunia sekitar, maka itulah saatnya kita mulai ditinggalkan orang. Pada saat itu kita tidak lagi mampu menjadi bagian dari solusi, tetapi menjadi bagian dari masalah. Kita kehilangan jati diri sebagai faktor benefit dan berubah menjadi faktor mudarat. Kita tidak lagi kontributif tetapi menjadi parasit. Dalam posisi ini, biar dinosaurus, biar seorang presiden sekuat Marcos atau Mobutu, biar perusahaan sekuat GM atau Astra, pasti akan lengser secara alamiah, bahkan dalam kasus-kasus khusus, lengser secara paksa dan dramatis.

Tingkat kedua, sukses inovatif . Maksudnya kita berhasil melalui inovasi yaitu dengan mampunya kita menawarkan produk-produk yang inovatif ke pasar. Sukses Tirto Utomo dengan Aqua-nya, Bill Gates dengan Windows-nya, Roy Crock dengan McDonald-nya, adalah contoh-contoh keberhasilan jenis ini. Cirinya, terjadi pertumbuhan besar-besaran, grafik keuntungannya naik tajam, ekspansinya cepat bagai gerak blitzkrieg. Sukses inovatif diperoleh dengan mengerahkan daya kreatif-imajinatifkita kita untuk menciptakan hal-hal baru. Di belakang setiap sukses ini selalu ada tokoh inovatif yang penuh vitalitas yang menghasilkan karya-karya baru yang mengandung nilai luar biasa besar bagi konstituennya.

Namun karena watak kehidupan yang selalu berubah, apalagi dalam zaman krisis yang adalah sebuah perubahan super cepat, maka sajian nilai inovatif tadi dengan cepat mulai tersaingi oleh kompetitor, bahkan pada titik tertentu sajian nilai kita bisa kalah dan ketinggalan (obselete).

Ada dua sebab mengapa usaha sukses berbasis inovasi bisa tumbang. Pertama, puas diri dan sombong. Di sini mereka merasa sudah hebat setinggi langit. Akibatnya mereka terkena mabuk sukses dan merasa tidak mungkin gagal, persis seperti awak Titanic yang sesumbar bahwa Tuhan pun tak mampu menenggelamkan mereka. Mereka kemudian lalai dan tidak waspada. Seterusnya mereka menjadi out of touch dan tidak lagi relevan dengan pasar. Akibatnya mereka disalip oleh kompetitor. Biasanya kalau tidak bangkrut, mereka pasti turun pangkat ke level satu. Sebab kedua, oleh karena mabuk sukses tadi, mereka kemudian bertengkar saling berebut, siapa berhak menikmati apa sebanyak apa dalam sukses baru ini. Energi yang tersedot oleh pertikaian ini membuat mereka tak mampu lagi melayani pelanggan secara memadai. Bahkan mereka saling merusak dan menghancurkan, dan kemudian kapal keberhasilan itu pun pecah.

Tingkat ketiga, sukses kualitatif. Sukses ini diperoleh – sesudah mengalami sukses inovatif tadi – dengan menjaga mutu bahkan meningkatkannya terus menerus. Kita tahu sukses orang Jepang, umumnya dicapai dengan metoda ini. Namun sukses ini ada batasnya, yaitu ketika perlombaan mutu sudah berlangsung habis-habisan, maka biaya peningkatan mutu itu akan jauh lebih besar daripada nilai tukar peningkatan mutu tersebut. Akibatnya dari sukses level tiga ini kita kembali ke lagi level satu. Jadi agar sukses ke tingkat lebih tinggi dapat dicapai, maka strategi inovasi harus ditempuh kembali.

BBC News
requested list not available

Antara News Indonesia
requested list not available

e-Jazz
requested list not available

Webmaster Talk
requested list not available





verse of the day

    "For the eyes of the Lord are on the righteous, and his ears are open to their prayer. But the face of the Lord is against those who do evil." Now who is there to harm you if you are zealous for what is good?

    1 Peter 3:12-13