BUNG KARNO agaknya sosok yang tidak akan pernah habis menghadapi ‘pembongkaran’ sejarah. Ia memang tokoh besar yang terbangun dari kontroversi dua ekstrem yang saling berseberangan. Sebagai tokoh yang amat berjasa dalam memerdekakan negeri ini, tapi ia pula dianggap sebagai penghancur negara.
Karena itu, sudah sedari dulu Bung Karno telah menerima dua predikat yang saling berlawanan itu. Ia dipuja bak dewa oleh para pengagumnya dan dibenci setengah mati oleh musuh-musuhnya. Kenyataan inilah yang pernah ia utarakan kepada penulis biografinya, Cindy Adams.
Pembongkaran terbaru atas ‘Pemimpin Besar Revolusi’ itu bisa dibaca dalam buku berjudul Sukarno File, Berkas-Berkas Soekarno 1965-1967, Kronologi Suatu Keruntuhan tulisan Antonie CA Dake. Dalam buku setebal 549 halaman doktor ilmu politik kelahiran Belanda itu berkesimpulan, Bung Karno sebagai mastermind (dalang) pembunuhan para jenderal Angkatan Darat dalam G-30-S pada 1965.
Berbagai fakta dibeberkan dan argumentasi dibangun Dake untuk memperkuat fakta sejarah yang tragis itu. Salah satu fakta yang memperkuat kesimpulan Dake adalah suatu hari di bulan Agustus 1965, Bung Karno yang tengah sakit itu memanggil dua tokoh penting Resimen Tjakrabirawa, Brigjen Sabur dan Kolonel Untung, ke kamarnya.
Di kamar itulah Bung Karno meminta kepada Kolonel Untung bersiap menindak para jenderal yang antikomunis. “Jika Bapak membiarkan kita menindak terhadap para jenderal, saya akan melaksanakan perintah apa pun dari Pemimpin Besar,” jawab Untung mantap kepada Bung Karno.
Buku yang merupakan terjemahan dari versi Inggris itu diluncurkan di Jakarta, beberapa hari silam. Sukarno File, seperti Bung Karno sendiri, pasti akan memunculkan kontroversi. Bagi para pengagum Bung Karno, buku Dake dianggap omong kosong. Namun, bagi para pengkritiknya, buku Dake kian memperkuat fakta keterlibatan Bung Karno dalam ontran-ontran berdarah pada 1965 itu.
Dake, tentu saja, belum tentu benar. Namun, bukunya harus kita hargai sebagai upaya untuk menemukan fakta sejarah kita yang masih belum clear. Semakin banyak ahli yang menguak tabir tragedi berdarah itu, bangsa ini akan bisa mengambil makna sendiri, mengambil pelajaran sendiri.
Sejarah memang tidak mungkin bisa diputar kembali. Yang bisa adalah direkonstruksi agar menemukan fakta yang mendekati kebenaran faktual. Dan, para ahli sejarah mestinya lebih banyak lagi terlibat dalam proses rekonstruksi itu. Peristiwa lain, Supersemar misalnya, peristiwa penting alih kekuasaan, hingga kini masih menjadi rumor sejarah: antara ada dan tiada. Dan, itu tidak sehat bagi bangsa ini.
Sejarah yang lebih jujur juga akan meringankan bangsa ini menghadapi aneka persoalan di masa depan. Karena itu, betapapun pahitnya, sejarah memang harus dibeberkan apa adanya. Agar kita dewasa dan tidak terperosok mengulangi kesalahan yang sama.