BUKU ini karya Esti Ismawati, dari disertasi berjudul Perempuan-Perempuan Jawa dalam Fiksi Indonesia: Kajian Transformasi Budaya yang dipertahankan di depan Senat Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), 3 Januari 2003. Penelitian dilakukan dengan mengambil 13 teks sastra yang menokohkan perempuan Jawa dalam fiksi sebagai sampel.
Tokoh perempuan Jawa dalam sastra Indonesia, yang diidealkan oleh beberapa pengarang dari Jawa, ternyata telah jauh dari apa yang selama ini diidam-idamkan kaum perempuan Jawa. Bukan hanya pengakuan kesederajatan dalam peran dan status, melainkan capaian yang lebih tinggi dari itu, bahkan tak segan-segan digambarkan secara jujur keunggulan perempuan atas kaum laki-laki Jawa.
Superior laki-laki Jawa yang telah berabad-abad diunggulkan, baik dalam kehidupan nyata maupun dalam karya fiksi, oleh beberapa pengarang telah dianggap sebagai mitos belaka. Perempuan Jawa dalam sastra Indonesia, tidak lagi diperankan sebagai konco wingking, meski secara kultural hal ini terus berlangsung hingga sekarang. Beberapa pengarang yang secara terang-terangan menempatkan perempuan Jawa pada posisi depan, misalnya YB Mangunwijaya, Umar Kayam, Linus Suryadi AG, Nh Dini, Arswendo Atmowiloto, dan Ahmad Tohari.
Dalam penelitian tersebut, Esti melihat peran perempuan Jawa dalam sastra Indonesia dari berbagai stratifikasi. Yakni, kelas sosial rendah yang diwakili oleh tokoh Srintil, Pariyem, dan Kedasih; kelas sosial menengah diwakili Ny Sastrowardoyo (Siti Ngaisah), Sri, Bawuk, dan Sumarah; dan kelas sosial tinggi (ningrat) yang diwakili Bu Bei (Tuginem), Larasati, dan Rosi Padmakristi.
Sosok perempuan Jawa, dalam novel Indonesia, selalu dimunculkan dengan citra dan problematika masing-masing sesuai golongan sosial yang ada di masyarakat. Perempuan golongan bawah disosokkan sebagai perempuan miskin, kurang berpendidikan, dan bekerja di sektor yang dianggap rendah. Termasuk golongan ini, misalnya Srintil, Pariyem, dan Kedasih.
Kemudian perempuan dari golongan menengah digambarkan berasal dari kalangan priayi, mengenyam pendidikan, dan secara ekonomis tidak kekurangan. Golongan ini disosokkan misalnya, Ny Sastrowardoyo, Bawuk, dan Sri Sumarah. Sedangkan perempuan dari golongan atas digambarkan sebagai perempuan yang sukses lahir batin, kaya raya, dan punya kedudukan terhormat. Termasuk kalangan ini, seperti Bu Bei, Larasati, dan Rosi Padmakristi.
Dalam sistem sosial, individu menduduki suatu tempat (status) dan bertindak (peranan) sesuai dengan norma aturan yang berlaku. Salah satu norma di dalam masyarakat Jawa, bahwa perempuan adalah konco wingking. Nah, apakah norma itu masih dipegang teguh oleh para pengarang dalam tokoh perempuan Jawa, ternyata tidak! Seperti Larasati dalam novel Burung-Burung Manyar karya Romo YB Mangunwijaya. Tokoh ini digambarkan sebagai perempuan yang sukses dalam kehidupan, baik kehidupan keluarga maupun karier sebagai Kepala Kantor Konservasi Alam.
Ia bukan perempuan inferior yang bekerja hanya pada sektor domestik, sebagaimana gambar perempuan Jawa masa itu: masak, manak, macak. Meski sukses mencapai prestasi akademik, Larasati tetap anggun dan elegan sebagai seorang perempuan.
Dengan menggunakan pendekatan kultural terhadap karya sastra fiksi, penulis buku ini secara rinci dan sistematis melihat gambaran mengenai terjadinya transformasi (perubahan) sosial budaya perempuan Jawa dari waktu ke waktu. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa peran perempuan Jawa sebagai ibu dan istri masih tetap (perlu) dipertahankan.
Buku Transformasi Perempuan Jawa karya Esti Ismawati ini menarik untuk dibaca khususnya oleh kaum perempuan yang sangat getol menuntut kesetaraan gender. Kehadiran buku ini juga dapat menambah wawasan seputar permasalahan kaum perempuan Jawa, serta membuka kesadaran kaum perempuan bagaimana harus menghadapi segala tantangan akibat pengaruh budaya asing dewasa ini.
Judul Buku: Transformasi Perempuan Jawa
Oleh: Djoko Sardjono