Lelaki Tua dan Gunung

general, wise short stories ~ {May 24th, 2005 - 10:24 am}

GUNUNG

adalah misteri, mungkin ini yang menyebabkan wanita itu ingin memiliki
barang sebuah saja, untuk bagian teka-teki di depan rumah. Wanita memang
suka yang tidak-tidak, tapi tak kalah, pembuat cerita juga suka mengada-ada.
Hanya saja -ini setengah kenyataan: ada wanita menghendaki gunung dan ada
lelaki tua bersumpah demi keluguan dan keheningan gunung, ingin memberi
gunung pada wanita itu.

"Rud, kamu bisa menggergaji gunung?" suaranya menggelegar
memecah kesunyian.

"Apa?" anak muda yang diajak bicara kaget. Menggergaji gunung?
Dia memang pawang batu, tapi tak menerima order menggergaji gunung. Pak
tua yang dikenal sebagai pemukim paling lama di daerah itu dan karena itu
dihormati penduduk sekitar ini, suka aneh-aneh. "Maaf, saya sedang
makan," sahut dia untuk menghindari pembicaraan.

"Ooh, sampekna..." lelaki tua menyatakan permahfuman.

***

DALAM tataran cerita, apa muskilnya keinginan seseorang untuk
memindahkan gunung, kalau pada cerita yang lebih tua lagi, ada kisah bagaimana
seorang ksatria buruk rupa memindahkan Taman Sriwedari ke ibu kota kerajaan
bernama Mahespati hanya dalam sekejap? Gagasan pindah-memindahkan atau
merekonstruksi lingkungan itu terus ada dari waktu ke waktu, dari dongeng
antah-berantah sampai ke kenyataan sehari-hari -andai saja Anda bersedia
untuk percaya. Pada zaman wangsa Sanjaya, lagi-lagi seorang ksatria menyulap
lingkungan alam hanya dalam waktu semalam. Orang mengenal Bandung Bandawasa
yang menciptakan seribu candi dalam waktu semalam untuk coba memenuhi permintaan
seorang putri yang didambakan. Pada zaman yang lebih mutakhir lagi, seorang
presiden menciptakan tiruan Nusantara, konon juga karena untuk memenuhi
permintaan istri tercinta. Taman mahaluas itu memang tak tercipta dalam
semalam, tetapi tetap terwujud meski pada pembangunannya diadang gelombang
protes dan demonstrasi.

"Jadi ini bukan sesuatu yang tidak mungkin," kata lelaki
tua mengenai proyek pemindahan gunung, "Kalian harus punya kreativitas
dan bersedia kerja keras."

Tak ada yang berani menyahut pernyataannya, meski sebagian orang boleh
jadi tak bersetuju dengan pendapatnya. Soalnya, dalam dua hal yang disebut
tadi, "kreativitas" dan "kerja keras", setidaknya lelaki
tua ini tidak cuma mengkhotbahkan. Ia memberi contoh, bagaimana dengan
semangat kepeloporannya dia menerabas masuk punggung gunung ini, yang dulunya
masih berupa hutan belantara. Dia mengolah hutan dengan kerja keras dan
ketekunan, sampai lingkungan ini menjadi permai dan para pemukim lain mulai
berdatangan mengikuti jejaknya.

Keadaan tidak nyaman dan mulus dalam seketika. Dalam lingkungan alam
yang setengah liar, wabah penyakit misalnya, datang dan pergi. Lelaki tua
ini ditempa oleh pengenalannya terhadap tumbuhtumbuhan sekitar- turun
tangan sebisanya menyelamatkan para penduduk yang tertimpa wabah penyakit.
Itulah sebabnya, dia diam-diam juga dikenal sebagai tabib.

"Nah ayo, siapa yang punya akal untuk memindahkan gunung?"
tantangnya terutama pada anak-anak muda.

***

PAWANG batu setempat yang biasa membangun candi di berbagai
daerah, mencoba melakukan sesuatu-setidaknya untuk menyenangkan lelaki
tua yang dia merasa pernah berutang jasa. Ketika anaknya tersambet penyakit
aneh dan rasa-rasanya hampir "lewat", lelaki tua tadilah yang
menyelamatkannya. Kini, dia mengerahkan semua kemampuan dan imajinasinya
untuk memindahkan gunung-setidaknya gunung-gunungan.

Di sungai berbatu-batu tempat para pawang batu biasa mencari bahan
untuk membuat candi, pura, patung, dan semacamnya, dia mencari batu ukuran
paling besar. Ia temukan apa yang dicari. Setelah itu, dia gergaji satu
sisi batu raksasa itu, sehingga permukaan batu yang tadi benjol-benjol
dan berlekuk-liku menjadi semata-mata rata. Pada permukaan yang telah rata
itu dia menatah dan mengukir, tiruan alam serupa gunung yang permai. Gunung
beserta awan serta alam berikut segenap isinya, tertatah dan terlukis sudah
semua. Orang-orang melihat dengan takjub. Dengan alat berat, batu itu bisa
digelundungkan atau bahkan diangkat, untuk ditempatkan di mana saja.

"Hua-ha-ha…" lelaki tua tertawa girang. "Gunungmu
apik tenan
...," pujinya. "Wanita itu akan senang."

Yang kurang jelas memang, siapa sebenarnya wanita yang dimaksudnya,
yang katanya pingin punya gunung di depan rumah. Seorang arsitek perencana
urban lulusan sekolah arsitektur terkemuka di luar negeri ingin menjawab
persoalan pindah dan memindahkan gunung ini secara rasional.

"Kita bangun saja rumah di sini," katanya dengan nada zakelijk.

Arsitek ini sudah lama bersahabat dengan lelaki tua itu. Mereka sama-sama
bisa berbahasa Belanda. "Biar wanita manja yang tak jelas siapa sebenarnya
itu yang pindah ke sini," lanjutnya.

Bermula dari corat-coret di atas kertas, ia wujudkan benar apa-apa
yang dia gambar dengan penuh khayalan itu di sebuah tanah berbukit menghadap
gunung-gemunung. "Biar puas dia memandangi gunung-gunung," katanya
sambil sibuk bekerja seperti anak kecil yang juga selalu ngomong sendiri
jika tengah mengerjakan sesuatu.

"Facade bangunan saya biarkan terbuka, agar menyatu dengan
alam," lagi-lagi dia ngomong sendiri. Seluruh material bangunan dia
ambil dari bahan-bahan setempat. Khusus pada bagian yang menghadap gunung
saja dia menggunakan materi kaca, untuk menapis air hujan, yang di daerah
tropis ini bentuk jatuhan air hujan kata dia tak menentu arahnya. "Kadang
miring, dengan curah yang tinggi. Berbeda dari daerah subtropis, air hujan
jatuh tegak lurus ke bawah dan curahnya tidak terlalu tinggi," kata
sang arsitek. "Bidang kaca ini juga saya maksudkan sekadar untuk mem-frame
gunung-gunung di depan sana."

Pada waktunya, rumah menghadap gunung itu jadilah sudah. Orang juga
takjub dan kagum-sama seperti mereka melihat karya berupa tatahan gunung
di batu dulu. "Ini bukan rumah," komentar seseorang. "Ini
work of art, karya seni…" lanjut orang yang rupanya agak
terpelajar ini.

***

DENGAN didasari alasan berbeda-beda, karya demi karya lahir
dan bermunculan. Semua ingin mengakali, menyiasati, menaklukkan tantangan
memindahkan gunung. Selain tatahan pada batu besar, rumah yang katanya
karya seni, ada yang membikin tatahan dari kulit berbentuk gunungan besar-karena
itu yang umum, gunung betul-betulan (atau menurut ukurannya sebutlah bukit)
dari sampah, ada yang benar-benar menggerus gunung dengan truk-truk besar
yang derak suara rodanya saja sungguh menggetarkan, sampai ada yang cuma
bersemedi dengan harapan, gunung akan terloncat karena semedinya. Pokoknya
seru dan unik, sampai kadang wilayah ini dikenal sebagai wilayah yang "tidak
masuk akal".

Begitu bersemangat setiap orang mengerjakan atau mencoba mengerjakan
sesuatu, sampai mereka lupa mempertanyakan ikhwal semua kegiatan ini: sebenarnya
semua ini untuk wanita siapa, wanita yang mana?

Sesekali, memang ada yang menanyakan kepada si lelaki tua: "...
Tuan, sebenarnya wanita itu siapa?"

Terhadap pertanyaan seperti itu, lelaki tua ini biasanya hanya menjawab
dengan tawa.

"Hua-ha-ha…," tawanya memecah keheningan gunung.

Tak jelas, apakah dia tengah bahagia, atau kesepian. (72)

Untuk memperingati ulang tahun ke-66 dr Oei Hong Djien, 5 April 2005

BBC News
requested list not available

Antara News Indonesia
requested list not available

e-Jazz
requested list not available

Webmaster Talk
requested list not available





verse of the day

    "For the eyes of the Lord are on the righteous, and his ears are open to their prayer. But the face of the Lord is against those who do evil." Now who is there to harm you if you are zealous for what is good?

    1 Peter 3:12-13