Masih menjadi pertanyaan banyak orang, dari mana sejumlah pemimpin memperoleh kemampuan kepemimpinan. Adakah dia berasal dari keturunan, atau bisa dikembangkan melalui proses belajar. Sementara perdebatan sedang berlangsung, orang boleh saja berargumen ke sana dan ke mari, sama bolehnya dengan saya yang mencoba memberi inspirasi melalui tulisan pendek ini.
Sebagaimana pernah ditulis Confucius, sifat dasar manusia sebenarnya sama, namun kebiasaanlah yang membedakan mereka. Bertolak dari premis dasar ini, maka titik awal yang membentuk seseorang jadi pemimpin adalah kebiasaaan. Dalam bahasa lain, tubuh ini sebenarnya sebentuk kebiasaan yang didagingkan. Meminjam penemuan seorang dokter medis, suatu hari seorang ibu yang baru saja menerima donor jantung dari seorang anak muda yang meninggal dalam kecelakaan, tiba-tiba saja merasa tubuhnya meminta hal yang aneh. Seumur-umur baru hari itu dia sangat ingin memakan ayam goreng lengkap bersama bir. Setelah diusut sana-sini, rupanya pemilik jantung terdahulu yang sudah almarhum, memiliki kebiasaan selama hidupnya memakan ayam goreng sambil minum bir.
Apa yang mau saya ceritakan dengan ilustrasi ini, kita sebenarnya bisa membentuk tubuh ini menjadi apapun ? termasuk menjadi pemimpin melalui kebiasaankebiasaan yang menahun. Sayangnya, karena unsur pembentuk tubuh tidak hanya satu, dan berakumulasi dalam dimensi waktu yang amat panjang, maka dibutuhkan banyak ketekunan dan kesabaran. Seperti sebuah karet gelang. Pertama kali ia ditarik agar longgar, tentu saja ia akan menolak keras. Namun, begitu ia ditarik perlahan berulang-ulang, ia akan lentur sebagaimana kita kehendaki.
Lebih-lebih kalau ketekunan merubah melalui kebiasaan ini, kemudian digabungkan dengan ketajaman visi yang mengagumkan. Pengandaiannya, mirip dengan orang yang tidak bisa berlari, namun karena amat tekun dan terus menerus berjalan perlahan ke tempat yang sama, maka ada saatnya ia akan sampai lebih dulu dibandingkan orang lain. Kekacauan hidup akan terjadi, kalau di satu sisi kita amat lambat merubah tubuh ini melalui kebiasaan, dan di lain sisi berganti arah setiap hari. Bisa dimaklumi kalau Helen Keller pernah berucap : ?Nothing is more tragic than someone who have sight, but no vision?. Saya setuju sekali dengan jeweran telinga model Helen Keller ini. Tanpa visi akan masa depan yang memadai, kita ini hanya kura-kura yang berjalan amat jauh dan tanpa tujuan.
Lebih dari sekadar menentukan arah, visi juga berfungsi seperti magnet yang bisa menarik kita ke kehidupan sebagaimana kita visikan. Sebab, dengan konsentrasi pada visi, maka fikiranpun akan diberi warna secara dominan. Tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah ditulis Jim Clemmer penulis buku best seller Growing The Distance, ?when we choose our thought, we are choosing our future?. Ketika kita memilih sebentuk fikiran, kita sebenarnya sedang memilih sebuah masa depan. Sekali lagi tampak, visi bukanlah basa basi.
Faktor ketiga yang mau saya ulas setelah kebiasaan dan visi, adalah keberanian untuk bertindak. Sebagaimana kita tahu bersama, sukses maupun gagal adalah produk langsung dari tindakan. Karena demikian langsungnya hubungan antara tindakan dan hasil, tidak sedikit orang yang menyimpulkan bahwa keberanian bertindaklah yang menjadi satu-satunya pembeda terbesar antara pemimpin dan orang biasa. Karena alasan terakhirlah, maka saya teramat sering merekomendasikan langkah 3 C (coba, coba, coba) ke banyak orang. Kedengarannya biasa memang. Anak kecilpun tahu hal ini. Namun, ada banyak sekali orang dewasa yang gagal melaksanakannya.
Perjalanan saya sebagai konsultan menunjukkan, setiap pemimpin dengan prestasi mengagumkan, hampir selalu disertai dengan ciri dalam bentuk sense of action yang tinggi. Sebagian bahkan bisa jatuh sakit kalau diminta diam, duduk dan tanpa bertindak apa-apa. Ada saja hal yang bisa dan mesti dikerjakan dan diperbaiki.
Faktor keempat dan terakhir, pemimpin umumnya tumbuh dengan membantu dan mengembangkan orang lain. Tanpa ini, saya khawatir kita hanya akan menjadi pekerja biasa tanpa pernah bisa menjadi pemimpin. Lebih dari itu, kebesaran dan kemuliaan pemimpin, justru terletak pada keikhlasan dan ketrampilan untuk senantiasa mendidik pengganti. Bukan sebaliknya, membuat diri duduk permanen dengan alasan belum ada pengganti yang mampu.
Berefleksi dari ini semua, saya tidak punya pretensi untuk menyebut keempat faktor di atas sebagai resep pasti jadi. Dalam dunia kepemimpinan, sebenarnya tidak ada resep. Yang ada hanyalah lingkaran refleksi yang berputar tidak habis-habisnya. Mirip dengan bola salju, semakin banyak ia berputar dan menggelinding oleh tindakan dan refleksi, maka ia akan membawa kearifan kepemimpinan dalam jumlah yang lebih banyak juga.
Fungsi empat faktor yang saya tuturkan di atas, hanyalah sebagian kecil saja dari seluruh perjalanan lingkaran panjang kepemimpinan. Andapun boleh menambahkannya dengan hamparan faktor-faktor lainnya. Dari fleksibilitas gaya, kedewasaan bawahan, kepekaan dalam membaca situasi, kondisi yang mendukung, dan masih banyak lagi yang lain.
Yang jelas, seninya mempelajari kepemimpinan justru terletak pada sifatnya yang tidak berbentuk tunggal. Ia lebih menyerupai air yang berubah bentuk setiap kali tempatnya berubah. Dan mengundang tanya, tanya dan tanya.