If you need a quality website that works for you and your business in a week, I am ready to help you.

Status : Working on projects
E-mail: andie@andiestuff.com
Phone/SMS: 0856-2688-490
Download: Site Planner





Rumah yang kutempati sekarang ini adalah rumah pertamaku sehingga kecintaanku kepadanya nyaris tak terkira. Saking cintaku kepadanya sehingga caraku merenovasi nafsu adanya. Rumahku itu tipe kecil dan sederhana sehingga membangunnya kembali mutlak hukumnya. Membangun dengan cara merobohkan jauh lebih dianjurkan karena konon, dari seluruh rumah itu, hanya dibedaki semen sekadarnya.

Maka belum lama ia diresmikan, kebobrokan langsung menjadi persoalan berikutnya. Jika aku sedang enak-enak bercengkerama dengan istri hal-hal yang menggemparkan bisa terjadi. Mulai dari plafon yang tiba-tiba ambrol sampai gumpalan tanah yang jatuh dari atap. Dari mana tanah ini berasal? Dari rayap yang ternyata sudah menghajar seluruh kerangka kayu rumah kami.

Tetapi apapun yang jatuh dari rumah ini ternyata tidak pernah menimpa kepala kami, benar-benar serupa keajaiban. Untuk itulah betapapun kecil dan bobrok rumah ini, tak menghalangi cinta kami. Kami kebutlah pembangunannya setiap ada rezeki. Saking semangatnya pembangunan ini sehingga berapapun duit yang kami punya langsung tertempel di rumah ini. Apa boleh, jumlah duit dan jumlah semangat itu tak selalu datang seimbang sehingga rumah kami menjadi serupa tempelan di sana-sini.

Yang paling tragis adalah desain atap rumah ini yang membuktikan puncak dari arsitektur spekulasi. Membangun rumah cuma berdasarkan perasaan telah membuat atap rumah ini kurang kemiringan. Hasilnya, genting yang sudah rapi terpasang itu cuma bisa untuk menahan panas tetapi gagal menahan hujan. Jika hujan tiba, di dalam maupun di luar tak bisa lagi dibedakan, kami harus berpayung senantiasa. Hanya ada satu cara: menutup setiap tepi genting itu dengan larutan semen. Ketika hasilnya tak banyak berarti, kami putuskan untuk menutup dengan semen seluruh permukaannya. Dilihat dari udara atap rumah ini pasti telah serupa dengan batok kura-kura.

Tetapi hebatnya, usaha radikal inipun tak kuasa mencegah air menetes entah dari mana lubangnya. Maka kami berjanji, di musim hujan berikutnya, seluruh genting itu akan kami bongkar dan kami ganti asbes saja. Karena kemiringan yang kurang itu, hanya bisa diatasi dengan atap yang ramah kemiringan. Asbes dengan segenap kelemahannya adalah pilihan yang sulit terelakkan. Atap itu pun kami bongkar paksa dengan kemarahan mengepul di kepala. Tetapi demi membayangkan sebentar lagi rumah ini bebas dari kebocoran, pembongkaran itu kami sambut dengan girang. Maka bongkar pasang pun dimulai lagi dengan iringan perasaan geli para tetangga. Mereka menyebut rumah saya sebagai kandang bubrah. Apa itu? ya, kandang rusak. Ini sindiran kultural di kampung kami, tentang seorang yang menjadi kaya berkat bantuan setan dengan syarat mau mengobrak-abrik rumahnya setiap kali.

Sudah tentu kami tak punya waktu untuk melayani soal-soal semacam itu karena kebocoran keburu memburu kami. Tiap hujan tiba kami memandangi air yang merayap di mana-mana itu dengan perasaan kecewa. Kecewa karena rumah kami ini, meskipun kecil adalah hadiah hidup yang sempurna jika saja minus kebocoran. Maka atap asbes itulah jawaban terakhirnya. Tak peduli betapapun buruk mutu sebuah asbes, tak peduli ia berbahaya bagi kesehatan, yang penting sanggup menghentikan kebocoran yang menghina ini. Ya, asbes itu kini sudah terpasang rapi. Saking gembiranya kami menunggu hujan seperti pria puber menunggu pacar. Aku ingin buru-buru melihat apakah hujan masih sanggup menembus atap ini, untuk kemudian kami akan memandangi hujan dengan segenap kegembiraan. Tapi astaga, ketika hujan itu benar-benar tiba, atap ini bocor lagi. Ada saja air yang menyelinap di sana-sini yang kami tidak mengerti di sebelah mana lubang celaka itu berada. Akhirnya aku cuma bisa patah hati dan memandangi bocor permanen itu dengan rasa tak berdaya

Akhirnya aku pilih teknologi terakhir; memasang aneka ember dan panci saja di setiap air itu menetes. Eh, tetesan di mana-mana itu makin lama makin menjadi orkes poliphoni yang mengesankan hati. Dan di akhir hujan baru menemui fakta ini: bahwa hujan paling lebat sekalipun tak sanggup mengisi air menjadi sepenuh panci. Jika dikumpulkan kurang segalon kecil saja jumlahnya. Aduh, air cuma sebegitu, kenapa harus kubayangkan sebagai bah dan kubiarkan merusak kegembiraan keluargaku selama ini!



« »