If you need a quality website that works for you and your business in a week, I am ready to help you.

Status : Working on projects
E-mail: andie@andiestuff.com
Phone/SMS: 0856-2688-490
Download: Site Planner





Feb 17

SETIAP Jumat, saya memiliki ritual khusus. Bukan cuma berupa salat Jumat berjamaah ke masjid depan rumah, tetapi juga menyiapkan tempat parkir khusus di depan rumah. Untuk siapa? Untuk siapa saja sebetulnya, bagi siapa yang kebih dulu mengambilnya. Siapa yang lebih dulu, itulah rezekimu, begitulah prinsipnya. Tetapi anehnya, sudah sekian lama, saya merasa tempat persis di depan rumah itu, seperti cuma untuk mobil yang itu saja. Mestinya ini tidak adil. Tetapi begitulah kenyataannya.

Anehnya tidak cuma saya. Kami sekeluarga, istri dan anak-anak juga memiliki perasaan yang sama. Jika hari Jumat dan jam salat Jumat tiba, di tempat itu, seperti hanya boleh ditempati mobil itu. Jika ia datang tepat waktu, kami lega, karena memang begitulah harapan kami semua. Tetapi jika ada orang lain lebih dulu menempatinya, rasanya kami jadi tidak rela. Sepanjang mungkin, kami akan bernegosiasi, agar pengambil tempat itu mau bergeser agak kemari, kalau perlu menutup gerbang rumah kami juga tak mengapa, sepanjang mobil yang biasa itu nanti akan ada di sana.

Jika kebetulan kami luput mengawasi dan ada jamaah lain yang menempati, karena betapapun itu jalan umum, seperti ada kecemasan di hati kami. Mobil yang biasa itu nanti pasti akan kecewa. Dan ia bisa berputar-putar mencari tempat kosong, tempat yang tidak biasa, dan ini pasti membuat gundah hatinya. Jika begitu keadaanya, kami lalu cuma biasa menatap mobil itu tidak cuma dengan rasa bersalah, tetapi juga rasa sedih. Seolah-olah kami lalai pada kewajiban dan alpa menjaga kebaikan.

Tetapi omong-omong, siapa sebetulnya pemilik mobil itu hingga begitu besar kedudukannya di hati kami. Ia bukan polisi, bukan tentara, bukan pejabat tinggi, dan bukan pula saudara kami. Ia tak lebih dari orang tua biasa, salah satu dari jamaah masjid kami. Ia tetangga, tetapi jauh dan kami juga tidak terlalu dekat secara pribadi. Tetapi yang sedang berlangsung ini memang bukan soal priabdi, melainkan soal bahwa tokoh ini adalah sesepuh di wilayah kami. Ia menjadi sesepuh bukan karena usianya yang sudah sepuh, tetapi lebih karena kebaikannya yang terkenal.

Setiap anak-anak yang bertemu menyapanya seolah ia adalah kakek mereka. Kepada mereka ia sering membagi-bagikan uang ala kadarnya, tetapi pasti bukan besarnya uang itu gara-garanya, melainkan lebih pada bahwa anak-anak itu merasa istimewa kalau sudah mendapat uang darinya. Di jalan saya pernah menaruh iba pada seoang seorang tetangga yang berat bawaannya. Saya yang saat itu bersepeda motor tergerak membantu.

Tapi karena begitu ribet bawaan orang ini sehingga penolong dan yang ditolong malah sama-sama bingungnya. Kami sibuk mencari cara seperti apakah agar bawaan itu lengkap dengan pemiliknya bisa terangkut secara bersama-sama. Lama kami mengatur posisi tapi hingga sejauh itu tak ada posisi yang memadai. Barang-barang itu menyita hampir seluruh jok yang ada, keadaannya menjadi serba sulit. Jika kami mendahulukan barang, maka manusianya tak terangkut dan itu tidak mungkin. Jika kami mendahulukan manusia, sang barang harus ditinggalkan dan itu juga mustahil.

Ketika situasi nyaris deadlock, melintaslah mobil Pak Tua itu dan dengan kebaikan hatinya seluruh persoalan ini selesai. Dialah yang mengambil alih seluruh kerepotan ini dengans segera. Ia pula yang mengantar tetangga itu hingga ke rumahnya yang terletak jauh melewati rumahnya sendiri. Pengambil alihan beban itu mengesankan saya untuk waktu yang lama. Gambaran kebaikan orang tua ini, tidak duma tergambar lewat kedekatanya dengan anak-anak, tetapi juga langsung bersentuhan dengan hidup saya sendiri.

Setiap saat ia parkir di depan rumah itu, ia pasti melihat bahwa ada tanaman sirih di pagar rumah. Maka suatu kali, sambil parkir ia membuka pintu sambil mengirim satu lagi jenis sirih langka untuk pelangkap sirih di rumah kami. Ketika suatu saat, kami sekeluarga masuk rumah makan langganan, orang tua ini sudah ada di sana bersama keluarganya pula. Tanpa diduga, kami ternyata penggemar rumah makan yang sama. Ia datang lebih dulu karenanya juga pulang lebih dulu. Tetapi baru kami tahu kemudian bahwa sambil pulang ia telah membayar seluruh tagihan kami.

Sekali lagi, ini bukan persoalan pribadi mentang-mentang sudah ditrakir makan dan diberi sirih langka. Ini soal seorang tua yang dicintai warga karena kebaikannya yang kebaikan itu kebetulan pernah singgah dalam hidup saya. Maka inilah hasilnya, barang siapa memiliki energi cinta, bahkan tempat untuk pakir mobilnya pun ada yang selalu menjaga.



« »