
Beginilah cara pendidikan kita menghargai kejujuran. Keponakan saya, kelas 3 SD, belum lama ini, menjadi bahan tertawaan keluarga karena gayanya menjawab soal tes di sekolahnya. Soal itu kurang lebih berbunyi berbunyi: Jika temanmu lupa membawa pensil ke sekolah, apa yang kamu lakukan? a. selalu meminjami, b. jarang, c. Tidak pernah.
Dari tiga jawaban itu, nilai tertinggi dipegang oleh nomor a, kedua b dan nilai terendah adalah jawaban c. Maksud soal ini jelas, bahwa nilai tertinggi diberikan pada anak yang berhati mulia, anak yang selalu menolong teman yang tengah susah. Persoalannya, pembuat soal ini tidak pernah menghitung, bahwa jenis kemuliaan semacam itu belum menjadi lahan urusan anak-anak seumur keponakan saya. Kedermawanan semacam itu adalah sebuah bangunan pikiran yang disusun para orang tua. 
Hari itu, aku melepas kepergian anakku dengan segenap rasa haru. Ada tas terselempang di bahu kecilnya, ada dua stick drum terselip di sela-selanya. Aku lepas dia hingga lenyap di tikungan jalan. Sementara ia tak nampak lagi aku masih terpaku di halaman.
Sebetulnya ritual ini ini amat berlebihan. Karena yang kusebut pergi itu bukan pergi jauh, bukan sekolah ke luar kota apalagi untuk pergi ke luar negeri. Yang kusebut pergi itu sesungguhnya hanya ngeloyor ke gang sebelah untuk kursus drum. Benar-benar cuma gang sebelah karena tempat kursus itu hanya berjarak beberapa rumah. Tetapi dasar kami ini keluaga kurang kerjaan, seberapapun jauh kepergian anak kami, itulah kepergian pertamanya hingga ia naik kelas empat SD. 

