
UNTUK menghindari risiko sweeping, sebuah restoran fast food di Semarang menambahkan kopiah untuk seragam karyawannya. Kebijakan ini jelas sekali maksudnya, ingin membuat wajah restoran itu berwatak agamis secara tiba-tiba.
Lagi, sebuah kebijakan yang nyaris menyerupai tahayul terjadi di sekitar kita. Kebijakan itu setara dengan kebiasaan ketika musim kerusuhan etnik tiba, yakni mengamankan diri dengan sekadar memacak kata “pribumi”. Setara dengan artis-artis panas yang kemudian menjadi tampak sangat salehah ketika bulan Puasa tiba. 
INDONESIA boleh dianggap negara miskin dan bangkrut. Tapi soal kedermawanan, negeri ini seperti punya lumbung derma yang tak ada habisnya. Adegan berikut barangkali akan menggambarkan fakta tersebut.
Di sebuah warung soto, seorang dari serombongan pembeli, bergegas menuju kasir untuk mentraktir semuanya. Makanan belum sempat ngendon sempurna di perut, tapi orang ini sudah merasa harus buru-buru menunaikan tugas mulia itu. Tapi dermawan ini malah cuma dianggap nyolong start belaka. Karena seorang yang lain, sambil masih tetap di mejanya, segera berteriak mengancam si kasir. ”Duitnya jangan diterima. Awas!” 

