
Bukan kita bekerja untuk uang tapi uanglah yang bekerja untuk kita. (Robert T Kiyosaki)
Kalimat itu saudaraku, saya kutip dari buku seorang yang buku-bukunya mengguncang banyak orang di berbagai belahan dunia, termasuk kita, di Indonesia. Orang ini setidaknya punya empat buku yang sangat menghasut, yang ia sebut sebagai serial Rich Dad. Kenapa? Karena semua buku itu memang bermula dari buku pertamanya yang sekarang telah diterjemahkan ke dalam 35 bahasa: Rich Dad Poor Dad. 
Seorang kawan kedapatan begitu marah demi melihat pintu belakang mobilnya tergores paku. “Itu pekerjaan pengamen yang tak kuberi duit,” katanya dengan rahang mengeras dan mata menyala. Maka sejak itu ia punya pekerjaan baru: memburu si pengamen di segenap perempatan lampu merah.
Goresan itu benar-benar membuat batinnya terganggu. Karena mobil itu telah menjadi bagian hidupnya. Kebersihannya adalah seni, kemilaunya adalah jiwa. Jika hujan, ia lebih menyukai bermotor atau bertaksi. Jika becek menghadang, ia pilih putar haluan. Katimbang mobilnya, ia lebih merelakan tubuhnya untuk tertimpa angin dan hujan. Maka goresan paku itu benar-benar musibah yang menyulut api kemarahannya. 

