
DERITA adalah sesuatu serupa mahkluk, karenanya ia bisa kita sapa dan kita ajak berdialog untuk dijinakkan. Penjinakkan ini bukan untuk membuat dia tidak ada melainkan sekadar membuat agar orang tidak merasakan derita yang kita punya.
Banyak orang gagal menyimpan deritanya, atau malah tak sedikit orang yang justru menawarkan derita itu kepada siapa saja. Cara ini betul-betul berbahaya karena orang semacam itu akan segera menjadi proposal masalah di hadapan orang lain. Ia akan dengan cepat menuai hasil berupa atribut sebagai orang yang ditolak dan disingkiri. Kedatangannya dianggap sebagai sumber persoalan dan pribadinya akan dianggap semacam kuman lepra. 
Ini kisah seorang bapak muda dengan anak prematur yang tengah menjemput ajal. Bayi itu, hanya sekepal tangan besarnya dan cuma bisa tergolek kaku di inkubator dengan tubuh seluruhnya membiru. Bibirnya sama sekali menolak bereaksi dan tubuhnya dipenuhi empat selang di empat penjuru. ”Harap tabah,” kata dokter kepada bapak muda ini. Ia bapak yang cerdas, apa arti kalimat dokter ini telah ia pahami. 
