If you need a quality website that works for you and your business in a week, I am ready to help you.

Status : Working on projects
E-mail: andie@andiestuff.com
Phone/SMS: 0856-2688-490
Download: Inquiry form





Masih mengingat Amy Search yang melambung gara-gara “Isabella”? Atau masih pula mengingat betapa jadi meriahnya dunia musik kita gara-gara masuknya penyanyi Negeri Jiran, Siti Nurhaliza, dengan lagunya “Betapa Kucinta Padamu” dulu itu?

Boleh dibilang itu adalah invasi Malaysia ke tanah kita. Invasi yang tak membahayakan, karena apa sih yang bisa membahayakan dari sebuah karya seni itu?
Dan lagi, invasi itu hanya dilakukan oleh segelintir musikus saja. Puncaknya? Ya hanya Siti Nurhaliza itu saja. Invasi yang terbatas, sehingga industri musik kita pun tak pantas panas.

Namun beda dengan apa yang dialami oleh negara tetangga kita itu. Ternyata tanpa pernah kita sadari bersama-sama, para musikus kita sudah mengancam industri musik mereka. Beberapa waktu lalu, ada selentingan menguar bahwa pemerintah Malaysia akan membatasi masuknya musik-musik Indonesia ke wilayah mereka. Hal ini bisa terjadi berdasar pada kenyataan yang memang mengenaskan, bahwa produksi musik lokal mereka turun dari tahun ke tahun gara-gara invasi musikus kita. Bila di tahun 1996 keuntungan pasar musik lokal bisa mencapai 945 milliar (dalam rupiah), tahun 2008 ini hanya mencapai 180 milliar saja.

Pemusik lokal tak digemari di sana. Publik Malaysia lebih memilih untuk mendengarkan lagu-lagu kita, seperti Radja, Ratu, Dewa, atau Peterpan. Musik asal Indonesia mendominasi radio juga televisi Malaysia. Bahkan prosentase yang ada, musik Indonesia mengambil jatah hingga 75 % di sana.

Pemerintah berencana membatasi dan mencekal, dan persatuan radio swasta mereka pun resah. Bagaimana tak resah? Bila hanya lagu-lagu Indonesia saja yang laku di sana?

Proses pencekalan sebenarnya sudah terjadi sangat lama. Apapun yang asalnya dari Indonesia, dalam hal ini tentu saja menyoal karya seni, akan terkena cekal bila terlalu mendominasi. Pada 5 Desember 2007 pementasan barongan pernah kena cekal, tak diperbolehkan lagi unjuk gigi di event-event resmi. Lantas di jalur musik, Ratu dan Sheila on 7 pun pernah dilarang masuk lagi kesana. Alasannya? Sheila on 7 dan Ratu dianggap tak santun karena menggunakan kata-kata yang seronok untuk judul hit singlenya.

Cekal demi cekal terus berlanjut. Gejolak pun tentu saja ada. Di berbagai bilik chat, komentar pedas melayang menyayangkan keputusan pemerintah Malaysia.

Terus bagaimana dengan musisi kita? Mereka ternyata tak terlalu terusik. Rossa yang lagu-lagunya laku keras di sana memang menyayangkan. Namun D’Massive, band yang tengah naik daun dan dielu-elukan publik Malaysia menanggapi semuanya dengan santai.

“Kita sih santai saja. Tanggal 17-19 Oktober nanti kita juga mau konser di situ kok,” ujar Rian sang vokalis saat ditemui di Blok M Plaza, Jakarta Selatan, Rabu (10/9) malam.

Begitu pula dengan Ebiet G. Ade.“Saya pikir penyanyi kita tidak dirugikan dengan adanya pembatasan itu, sebab selama ini mereka ke sana juga hanya sebagai sambilan saja, omzetnya tentu saja lebih besar yang di dalam negeri.” begitu jelasnya.

Bila proses pembatasan masuknya musik Indonesia akhirnya memang jadi dilaksanakan, Malaysia memang terkesan tak adil. Toh kita sendiri juga tak pernah membatasi masuknya karya seni mereka ke Tanah Air. Bahkan Siti Nurhaliza pun malah dielu-elukan dengan gegap gempita di sini.

Menyikapinya, bolehlah kita jadi menghujat, namun akan lebih baik lagi bila kita juga jadi bercermin. Belajar dari sikap pemerintah Malaysia itu, yang sebenarnya hanya mencoba untuk melindungi seni dalam negerinya sendiri, hanya terlalu mencintai budaya ciptaan sendiri saja. Bila kita bisa bersikap sama, tapi tentu saja dengan implementasi yang lebih cerdas ketimbang membetot paksa telinga masyarakat seperti yang dilakukan oleh Malaysia itu, mungkin saja kebudayaan-kebudayaan serta pulau-pulau kita tak lagi akan terampas di masa yang akan datang.



« »