
Category Refleksi Prie GS, Wise Stories
JUDUL di atas bukan gambaran pemandangan di sebuah kamp penyiksaan melainkan cukup terjadi di rumah Apriyani, di Cibeber Bekasi. Di rumah itulah, selama dua bulan, ia dikabarkan menganiaya pembantunya, Haryanti, wanita asal Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah.
Selama itulah, setiap kesalahan kecil, berarti bencana bagi Haryanti. Bencana itu bisa berupa pukulan balok kayu, jambakan dan sayatan pisau. Puncaknya adalah ketika kepala pembantu itu digunduli dan pahanya diseterika. Oya, dalam aksi aniaya itu, Apriyanti tidak sendiri. Ia juga dibantu anak lelakinya yang mulai pintar menghantamkan balok kayu ke tubuh sang pembantu. Bantuan ini termasuk luar biasa mengingat si anak baru duduk di kelas 1 SD. Read the rest of this entry »
Ada murid datang telambat, ada guru memberi sanksi, si murid membangkang, sang guru berang, murid lalu meludah dan guru memukul. Kira-kira semacam itulah adegan yang berlangsung di sebuah sekolah di Purbalingga, Jawa Tengah. Adegan itu berakhir dengan demo ratusan siswa untuk si guru, permintaan untuk mundur dan ucapan maaf.
Detail adegannya sendiri masih sulit dilacak karena: “Saya tidak memukul cuma meletakkan kepalan di tubuh dan menekannya,” kata si guru. “Anak saya meludah ke samping, ke tanah tidak mengenai wajah dan tubuh guru,” kata orang tua murid. Tapi apapun faktanya, memukul atau cuma menekan, kepalan tangan guru itu tetaplah ada. Apapun dalihnya, meludah ke wajah atau ke tanah, ludah itu telah pula melompat dari tempatnya. Read the rest of this entry »
Ada di dalam hidup ini kejadian yang tak ingin saya kenang karena seluruhnya cuma berisi soal yang memalukan. Saya amat gemar menulis surat cinta di zaman sekolah. Dan ketika surat-surat itu saya baca ulang bertahun kemudian, hasilnya adalah aib berkepanjangan. Membayangkan surat-surat ini dibaca orang bisa membuat saya mati berdiri. Akhirnya gunungan surat itu saya sobek-sobek menjadi serpihan, saya bakar agar lenyap jadi asap. Sekarang baru saya sadari, betapa tidak perlu tindakan itu. Betapa ingin saya berani memungut kembali satu-persatu kenangan itu, betapapun ia bikin malu. Karena hidup yang sekarang, pasti tidak disusun cuma berdasarkan kebenaran dan kemuliaan. Di antaranya, ia pasti disusun juga dengan kebodohan, aib dan kekeliruan. Read the rest of this entry »
