
Category Refleksi Prie GS, Wise Stories
Ada murid datang telambat, ada guru memberi sanksi, si murid membangkang, sang guru berang, murid lalu meludah dan guru memukul. Kira-kira semacam itulah adegan yang berlangsung di sebuah sekolah di Purbalingga, Jawa Tengah. Adegan itu berakhir dengan demo ratusan siswa untuk si guru, permintaan untuk mundur dan ucapan maaf.
Detail adegannya sendiri masih sulit dilacak karena: “Saya tidak memukul cuma meletakkan kepalan di tubuh dan menekannya,” kata si guru. “Anak saya meludah ke samping, ke tanah tidak mengenai wajah dan tubuh guru,” kata orang tua murid. Tapi apapun faktanya, memukul atau cuma menekan, kepalan tangan guru itu tetaplah ada. Apapun dalihnya, meludah ke wajah atau ke tanah, ludah itu telah pula melompat dari tempatnya. Read the rest of this entry »
Ada di dalam hidup ini kejadian yang tak ingin saya kenang karena seluruhnya cuma berisi soal yang memalukan. Saya amat gemar menulis surat cinta di zaman sekolah. Dan ketika surat-surat itu saya baca ulang bertahun kemudian, hasilnya adalah aib berkepanjangan. Membayangkan surat-surat ini dibaca orang bisa membuat saya mati berdiri. Akhirnya gunungan surat itu saya sobek-sobek menjadi serpihan, saya bakar agar lenyap jadi asap. Sekarang baru saya sadari, betapa tidak perlu tindakan itu. Betapa ingin saya berani memungut kembali satu-persatu kenangan itu, betapapun ia bikin malu. Karena hidup yang sekarang, pasti tidak disusun cuma berdasarkan kebenaran dan kemuliaan. Di antaranya, ia pasti disusun juga dengan kebodohan, aib dan kekeliruan. Read the rest of this entry »
Saya memiliki teman yang cuma dengan melihatnya saja telah membuat saya menjadi lelah. Teman ini jika hendak berangkat pergi paling terlihat terburu-buru tetapi jika telah tiba di tujuan ingin buru-buru kembali. Padahal tidak ada sesuatu yang genting. Tidak pula ia ditunggu seseorang, tidak pula dia dikejar waktu. Yang selama ini mengejarnya tak lebih dari perasaanya sendiri. Tetapi begitulah sebetulnya perasaan kita pada umumnya, tak terkecuali saya. Selalu ada watak buru-buru meskipun tidak ada yang memburu. Read the rest of this entry »
